Restoran Bebek Timbungan, Tempat Asyik Nikmati Seafood, Vegetarian & Kue Tradisional

Begitu mobil parkir mata saya langsung melihat tulisan di luar gedung restoran Bebek Timbungan, Balinese Heritage Cuisine dihiasi gambar bebek dengan potongan daun bambu berwarna hijau di tengah tubuhnya.

Nama restoran di kawasan Sunset Road itu sejak datang dari Jakarta ke Bali sudah diinformasikan Hendra, Manager TX Travel Bali. Dia sudah menyebut-nyebut restoran ini  terus dimana lokasi tempat, dekorasi, menu bahkan selebritas yang datang rekomendasinya semua bagus buat resto yang baru buka sebelum akhir tahun 2019 lalu dan tak lama kemudian bertemu masa pandemi.

Pemiliknya asal Semarang tapi masakannya otentik Bali sehingga menjadi tujuan wisata alternatif saat liburan di Pulau Dewata. Tamunya 

masyarakat biasa, para artis hingga vloger, wisatawan asing hingga para menteri negara.

” Bentuk bangunannya sih nggak ada istimewanya. Timbungan bahasa Bali ya ?, kenapa dinding luar dilapisi potongan bambu ya,” celoteh saya sambil cuci tangan sebelum masuk mengikuti prosedur kesehatan di masa pandemi ini.

Hendra tidak menjawab pertanyaan saya tapi senyum-senyum saja. Saya memang lagi menjadi ‘ibu negara’, guyonan yang menyenangkan karena seharian didampingi Hendra dan  dialah yang mengatur makan siang dimana, ngopi dimana, bertemu nara sumber dimana dan seterusnya. 

Pokoknya itenerary yang dibuatnya efektif dan efisien sehingga program Work from Bali  saya selama delapan hari di Bali lancar jaya karena dirancang tepat oleh para ahlinya.

Saat jam makan memang panggilan perut minta diisi sudah datang. Kejutan pertama begitu masuk ada disebelah kanan, melihat dapur terbuka dilapisi kaca.!.

Wow, dua orang koki sedang bekerja membuat kue-kue pesenan tamu-tamu. Gerabah tanah yang menjadi peralatan memasak membuat saya asyik menonton aktuvitas dua chef dan teringat keramik Kasongan, Yogyakarta.

Sambil bekerja keduanya tak lupa menyapa dan memberikan salam. Dua wanita lainnya dengan wajah ditutupi  face shield di wajah berdiri di pinggir rak-rak berisi produk kecantikan kulit mulai dari lulur, minyak zaitun, body butter dan aneka bentuk bebek-bebek suvenir dengan aktivitasnya yang lucu dari sebuah patung.

Ternyata saya sudah langsung belanja oleh-oleh dulu sebelum memilih tempat duduk strategis. Tiba di meja, Hendra dan Dwi Yani sudah duduk manis sambil menatap menu.

chef
Chef Ida Bagus Gde Udiana, chef utama Bebek Timbungan.

Banyak spot foto

Begitu masuk ruangan resto, saya malah heboh sendiri mengarahkan lensa kamera ke dinding soalnya lukisan selebar dinding juga dibuat lebih hidup dengan dipadu padankan dengan barang asli.

Lukisan para penari Bali misalnya, tiba-tiba ditempelkan mahkota gelung asli yaitu perhiasan kepala untuk para penari wanita. Ada juga lukisan peternak ngangon bebek dan dada serta leher bebek menonjol di dinding serasi dengan lukisan bebeknya.

Ada lagi suasana pasar dan penjual bebek dengan keranjang bambu yang mencuat keluar dari dinding restoran. Pokoknya lukisan dinding itu menjadi ‘hidup’ dan instagrammable sehingga sayang jika tidak menjadi latar belakang foto-foto kebersamaan bersama orang-orang terkasih.

Terjawab sudah mengapa tempat ini banyak mendapat promosi gratis dari para pengunjungnya termasuk di medsos oleh para artis ibukota karena setiap sudut memiliki spot foto yang bagus. Di samping para staff restoran yang memakai kebaya dan kain tapi dapat gesit melayani tamu.

Saat hidangan tersaji, muncul chef utama yaitu Ida Bagus Gde Udiana, orang di balik sepiring bebek timbungan nikmat di restoran ini. Rupanya sang chef dan mbak Dwi Yani sudah kenal lama sejak tahun 1990 an sehingga kehadirannya sekaligus nostalgia.

Chef Ida Bagus bercerita ketika dipercaya oleh om Billy julukan bagi sang owner yang juga pemilik produk kulit dan kecantikan Herbolist untuk mengelola restoran, maka dia menawarkan konsep otentik menu bebek Bali tradisional.

Menu langka ini biasa disajikan pada acara spesial di kerajaan seperti upacara termasuk upacara keagamaan maupun saat istana menyambut tamu-tamu istimewa.

” Nama Bebek Timbungan diambil dari kata Tim yaitu proses memasak dalam bambu yang mencapai 12 jam serta dari kata Mbung yang artinya bambu muda,” jelas chef Ida Bagus Gde Udiana.

Rasa Bebek timbungan terbilang pedas tetapi kaya akan rempah dan bumbu. Terasa juga kelapa yang dicincang kecil-kecil dan tekstur dari bebek yang sangat empuk dan halus. 

Hidangan ini disajikan dengan tiga macam yaitu sambal sambal ijo, sambal terasi dan tak ketinggalan sambal khas Bali yaitu sambal matah.

Makanan pendamping yang segar juga tak lupa dihidangkan. Ada urap kacang panjang khas Bali yang dimasak dengan bumbu dapur seperti kunyit, bawang, cabe, dan sedikit santan.

Pilihan lainnya ada kerang bumbu kacang, salah satu menu andalan yang disajikan masih dengan cangkang kerangnya. Kerang sendiri diolah dengan cara dibakar sampai tekturnya empuk. Kerang bumbu kacang dihidangkan lengkap dengan plecing kangkung sebagai makanan pendamping.

Ada sate lilit dan sup seafood dengan rasa segar mirip Tom Yam namun sup inipun masih dari menu-menu tradisional jaman kerajaan. Jadi di era digital orangtua yang membawa keluarga ke restoran ini bisa memperkenalkan kekayaan nusantara khususnya Bali dari jaman kerajaan.

” Ini suatu bentuk edukasi yang luar biasa, kalau bisa ada cooking class dan buku resep untuk melestarikan masakan otentik Bali ini,” kata Dwi Yani yang disambut anggukan kepala chef Ida Bagus dan tim marketingnya.

Chef bercerita, selain proses memasak yang masih mengikuti pola tradisional, restoran Muslim friendly ini juga memilih bumbu dan sayuran organik. Untuk bumbu saja sedikitnya mencakup 36 jenis sehingga rasa beragam rempah sangat kuat dslam bebek timbungan.

“Bambu untuk memasak bebeknya jenis bambu Petung yang mengeluarkan bau wangi bahkan air yang keluar dari proses memasaknya baik untuk kesehatan tubuh,” ungkapnya.

Bebeknya juga dipilih yang sudah tidak produktif dan bukan bebek kebutuhan upacara-upacara keagamaan di Bali yang biasanya warna berbulu hitam, belang kalung gelang dan lainnya.

Menyinggung soal menu, chef Ida Bagus Gde Udiana mengatakan selain bebek tersedia juga seafood dan menu vegetarian dari sayur-sayuran organik. Selain itu berkunjung ke restoran ini untuk tea time atau ngopi juga cocok karena tersedia kue tradisional yang disajikan dengan unik.

” Soal menu juga ada filosofinya karena wikayah Bali ini terdiri dari daerah pesisir maka kami juga punya menu-menu seafood baik ikan laut maupun hasil budi daya seperti gurame dan udang “

Selain pesisir maka Bali Tengah diwakili menu bebek maupun ayam dan sapi dan dari daerah pegunungan tempat produksi sayuran organik menunya cocok untuk vegetarian, ungkapnya panjang lebar.

Pilihannya ada sayur-sayuran seperti pelecing kangkung, urap gonde, serombotan.Harga makanan mulai belasan ribu dan untuk menu utama seperti seporsi bebek timbungan dihargai Rp 125.000 untuk separuh bebek dan Rp 215.000 untuk satu bebek utuh. Untuk makanan lainnya berkisar Rp 40.000 hingga Rp 150.000.

makanan
Restoran yang menawarkan Beragam menu tradisional khas Bali.

Pisang goreng panas dingin

Pisang goreng panas dingin merupakan salah satu makanan penutup dari Bebek Timbungan juga cocok untuk disantap sore hari sekedar menemani minum kopi atau teh. 

Hidangan ini hadir dengan inspirasi filosofi Yin dan Yang, yang menyeimbangkan setiap elemen dalam kehidupan. Seperti namanya hidangan ini bukan hanya hidangan pisang goreng biasa.

Untuk menyantapnya, ada teknik-teknik tersendiri yang harus diperhatikan. Pisang goreng ini dibalut dengan gula caramel yang dipanaskan hingga meleleh. Lalu pisang goreng tersebut dimasukan kedalam air es yang dingin selama sepuluh detik.

Fungsinya untuk mengeraskan tekstur gula karamel yang lembek hingga mengeras, setelah itu pisang goreng diangkat dan dimakan dengan es krim vanila.

Mengolah minuman tradisional menjadi layak saji di restoran ini sekaligus menyehatkan dan  menuntaskan dahaga bisa pilih es klajur, es daluman, es rujak kelapa, es pandan, dan aneka jus buah lainnya.

Hal yang pasti Restoran Bebek Timbungan ini bukan sekedar tempat mengisi perut yang lapar tapi cocok buat yang dahaga dengan pengetahuan kuliner masa silam.

Sebelum meninggalkan restoran masih ada frozen food bebek yang idenya lahir saat masuki pandemi dan kini juga masuk sejumlah swalayan modern di Bali dan Jakarta untuk dibawa pulang. Nah penasaran kah ?.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.